Kalau kamu baru selesai mondok, masih muda, belum pernah mengabdi, belum selesai seluruh proses belajarmu, lalu sekarang bingung harus kuliah, bekerja, mengabdi, atau pulang membantu orang tua, maka satu hal yang perlu dipahami lebih dulu adalah: kamu tidak harus terburu-buru menentukan seluruh hidupmu sekarang.
Usia muda memang membuat kita mudah merasa tertinggal. Melihat teman sudah bekerja, kita ingin bekerja. Melihat teman sudah punya penghasilan, kita merasa harus segera punya uang sendiri. Melihat orang lain mulai usaha, kita ingin ikut membuka usaha. Padahal belum tentu apa yang cocok untuk mereka cocok untuk kita.
Jangan menentukan masa depan hanya karena takut dianggap lambat dan ikut - ikutan teman.
Kalau Masih Ada Kesempatan Belajar, Belajarlah Dulu
Untuk kalian yang baru selesai satu jenjang di pondok dan sebenarnya masih mempunyai kesempatan belajar lebih jauh, pikirkan baik-baik sebelum memutuskan langsung bekerja.
Bekerja itu baik. Mencari penghasilan juga baik. Tetapi jangan sampai keinginan mendapatkan uang malah membuat kita kehilangan kesempatan belajar yang mungkin tidak datang dua kali.
Saat masih muda, orang tua masih mampu membantu, tanggungan belum banyak, belum mempunyai istri dan anak, sebenarnya itu adalah masa yang sangat berharga untuk memperkuat ilmu dan keterampilan.
Nanti ketika sudah menikah, punya anak, harus membantu orang tua, membayar kebutuhan rumah, dan memikirkan banyak tanggung jawab, waktu untuk belajar biasanya tidak sebanyak sekarang.
Jadi kalau hari ini kamu masih mempunyai kesempatan sekolah, kuliah, memperdalam agama, belajar bahasa, belajar teknologi, belajar bisnis, atau mendapatkan keterampilan lain, jangan dianggap sebagai membuang waktu.
Mungkin justru itulah modal yang akan membuat hidupmu lebih baik beberapa tahun ke depan.
Jangan Merasa Lulus Berarti Sudah Siap Menghadapi Semua Hal
Selesai mondok tidak otomatis berarti seseorang sudah matang menghadapi kehidupan.
Ada anak yang ilmunya bagus tetapi masih mudah mengambil keputusan karena emosi.
Ada anak yang pintar dalam hal pelajaran tetapi belum bisa mengatur uang.
Ada yang terbiasa hidup dengan jadwal pondok, tetapi ketika keluar justru bingung mengatur waktunya sendiri.
Ada yang selama ini selalu berada di lingkungan baik, kemudian ketika bekerja pertama kali harus menghadapi lingkungan yang sangat berbeda.
Itu semua normal.
Karena kehidupan di luar pondok memang membutuhkan kemampuan yang tidak seluruhnya dipelajari di kelas.
Kalian akan belajar bagaimana menghadapi atasan, mengatur pendapatan, memilih lingkungan, mengontrol diri ketika tidak ada yang mengawasi, menghadapi kegagalan, dan menentukan keputusan yang mempunyai konsekuensi panjang.
Karena itu jangan terlalu percaya diri hanya karena sudah merasa “selesai mondok”.
Tetaplah merasa sebagai orang yang masih perlu belajar.
Kalau Belum Pernah Mengabdi, Jangan Langsung Menganggap Pengabdian Tidak Penting
Saya juga ingin mengatakan kepada temen - temen yang baru lulus tetapi belum pernah merasakan masa pengabdian: jangan buru-buru melihat pengabdian hanya dari nominal yang didapatkan.
Saya memahami bahwa mukafaah terkadang kecil.
Tetapi untuk seseorang yang masih sangat muda dan belum mempunyai tanggungan besar, ada nilai lain yang bisa didapatkan dari pengabdian.
Kamu belajar memegang amanah.
Belajar menghadapi anak-anak yang berbeda karakter.
Belajar berkomunikasi.
Belajar sabar.
Belajar menyelesaikan masalah tanpa selalu meminta bantuan orang lain.
Belajar memimpin.
Belajar menerima kritik.
Belajar bahwa ilmu yang didapatkan selama bertahun-tahun ternyata harus digunakan untuk membantu orang lain.
Pengalaman seperti itu sangat berharga ketika nanti masuk dunia kerja.
Banyak orang pintar secara teori tetapi sulit bekerja sama.
Ada orang berpendidikan tinggi tetapi tidak mampu memegang amanah.
Ada pula orang yang mempunyai kemampuan bagus tetapi tidak tahan menghadapi tekanan.
Masa pengabdian bisa menjadi salah satu tempat untuk melatih semua itu.
Jadi kalau kamu masih muda, belum punya tanggungan, dan mendapatkan kesempatan pengabdian yang baik, jangan langsung menolaknya hanya karena belum menghasilkan banyak uang.
Ambil ilmunya.
Ambil pengalamannya.
Tetapi jangan lupa mempersiapkan tahap berikutnya.
Mengabdi Bukan Berarti Berhenti Menyiapkan Masa Depan
Ada kesalahan lain yang juga harus dihindari.
Jangan sampai karena sedang mengabdi, kamu kemudian berhenti memikirkan masa depan sama sekali.
Pengabdian bukan tempat untuk bersembunyi dari keputusan hidup.
Kalau sedang mengabdi, justru manfaatkan waktumu sebaik mungkin.
Belajar keterampilan baru.
Kalau kamu tertarik bisnis, pelajari bisnis.
Kalau ingin kuliah, cari informasi kampus dan beasiswa.
Kalau tertarik teknologi, belajar komputer.
Kalau ingin menjadi guru, tingkatkan kemampuan mengajar.
Kalau ingin berdagang, belajar pemasaran dan pengelolaan keuangan.
Jangan menunggu masa pengabdian selesai baru kemudian bertanya:
“Setelah ini saya harus bagaimana?”
Pikirkan dari sekarang.
Buat rencana.
Yang penting ada arah.
Misalnya kamu mengabdi satu tahun. Dalam satu tahun itu targetkan juga kemampuan apa yang harus bertambah.
Jadi setelah selesai, kamu tidak keluar dengan kondisi sama seperti ketika pertama masuk.
Jangan Memilih Jalan karena Tekanan Teman
Usia muda sangat mudah terpengaruh teman.
Teman bilang kerja di tempat tertentu enak, kita ikut.
Teman sedang ramai jualan, kita ikut jualan.
Teman kuliah di suatu jurusan, kita ingin mengambil jurusan yang sama.
Padahal setiap orang mempunyai kemampuan, keadaan keluarga, dan tujuan yang berbeda.
Jangan menyerahkan keputusan besar dalam hidup kepada tekanan lingkungan.
Tanyakan dulu kepada diri sendiri:
Saya sebenarnya kuat di bidang apa?
Saya tertarik pada apa?
Apa yang bisa saya pelajari lebih serius?
Kondisi orang tua saya bagaimana?
Apakah saya perlu membantu keluarga sekarang?
Apakah saya masih punya kesempatan belajar?
Apa yang ingin saya capai lima tahun ke depan?
Pertanyaan seperti itu lebih penting daripada sekadar mengikuti teman.
Tidak masalah kalau jalanmu berbeda.
Yang penting kamu mengerti kenapa memilih jalan tersebut.
Jangan Terlalu Mengejar Uang di Usia yang Seharusnya Masih Membangun Kemampuan
Uang memang penting.
Kita tidak perlu berpura-pura bahwa uang tidak dibutuhkan.
Tetapi untuk anak yang masih sangat muda, jangan sampai ukuran keberhasilan hanya berdasarkan penghasilan.
Kalau umur 18 atau 19 tahun kamu belum mempunyai banyak uang, itu bukan masalah besar.
Yang perlu dikhawatirkan justru kalau pada umur itu kamu tidak mempunyai kemampuan dan tidak mau belajar.
Karena penghasilan biasanya mengikuti nilai yang bisa kita berikan.
Kalau kemampuan bertambah, pengalaman bertambah, komunikasi bagus, bisa dipercaya, punya keahlian, insyaAllah kesempatan mencari penghasilan juga akan semakin luas.
Tetapi kalau sejak muda hanya mengejar uang tanpa membangun kemampuan, bisa jadi beberapa tahun kemudian kita tetap berada pada pekerjaan yang sama dengan kesempatan berkembang yang sangat terbatas.
Jadi jangan hanya bertanya:
“Berapa gajinya?”
Tanyakan juga:
“Apa yang bisa saya pelajari dari sini?”
Belajarlah Mengelola Uang Sebelum Mendapatkan Uang Banyak
Kalau memang memutuskan bekerja, pelajari keuangan sejak awal.
Jangan begitu mendapatkan gaji pertama langsung merasa sudah mampu membeli semuanya.
Biasakan menabung.
Belajar membedakan kebutuhan dengan keinginan.
Kalau mendapat Rp1 juta, jangan habiskan Rp1 juta.
Kalau mendapat Rp3 juta, jangan merasa harus terlihat seperti orang yang berpenghasilan Rp3 juta.
Bantu orang tua semampunya.
Sisihkan untuk belajar.
Kalau ingin usaha, kumpulkan modal.
Jangan mudah berutang hanya untuk gaya hidup.
Kemampuan mengelola uang kecil akan sangat membantu ketika suatu hari kamu memegang uang besar.
Kalau Rp500 ribu saja tidak bisa dikelola, belum tentu ketika pendapatan menjadi Rp5 juta semuanya otomatis menjadi lebih baik.
Jangan Malu Mulai dari Pekerjaan Sederhana
Ada anak muda yang gengsi bekerja karena merasa pekerjaan tertentu terlalu kecil.
Padahal di usia awal, pekerjaan pertama tidak harus menjadi pekerjaan seumur hidup.
Bisa jadi pekerjaan pertama hanya menjadi tempat belajar.
Belajar disiplin.
Belajar datang tepat waktu.
Belajar menghadapi pelanggan.
Belajar menerima perintah.
Belajar menyelesaikan pekerjaan dengan standar tertentu.
Belajar bertanggung jawab terhadap kesalahan.
Kalau pekerjaannya halal dan tidak mengganggu kewajiban agama, tidak perlu malu.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah pekerjaan tersebut membuatmu berkembang atau justru membuatmu berhenti belajar sama sekali.
Mulailah dari mana pun.
Tetapi jangan berhenti bertumbuh.
Jangan Meninggalkan Kebiasaan Baik Hanya karena Sudah Tidak di Pondok
Ini bagian yang sangat penting.
Ketika kalian keluar dari pondok, ujian sebenarnya justru mulai berbeda.
Di pondok, lingkungan membantu kalian menjaga banyak hal.
Ada jadwal salat.
Ada pengajian.
Ada aturan.
Ada teman yang sama-sama belajar.
Ada ustaz yang mengingatkan.
Begitu keluar, mungkin tidak ada lagi orang yang mengingatkan.
Di sinilah terlihat apakah ilmu selama di pondok benar-benar menjadi kebiasaan atau hanya dilakukan karena sistem.
Jangan sampai setelah bekerja, salat mulai berantakan.
Jangan sampai karena punya uang sendiri lalu mudah masuk ke gaya hidup yang tidak perlu.
Jangan sampai karena lingkungan berubah lalu akhlak ikut berubah.
Kalau dulu menjaga lisan di pondok, jaga juga di tempat kerja.
Kalau dulu diajarkan jujur, jangan curang dalam berdagang.
Kalau nanti jadi atasan, jangan semena-mena kepada bawahan.
Kalau punya usaha, jangan menipu pelanggan.
Ilmu pesantren harus terlihat ketika kalian berada di luar pesantren.
Kalau hanya terlihat ketika masih memakai sarung di pondok, berarti manfaat ilmunya belum maksimal.
Bertanyalah kepada Orang yang Tepat
Kalau masih bingung memilih langkah, jangan malu bertanya.
Tapi pilih kepada siapa kamu bertanya.
Diskusikan dengan orang tua.
Tanya guru yang mengenal karakter kalian.
Kalau ingin kuliah, bicara dengan orang yang memahami dunia pendidikan.
Kalau ingin usaha, tanya orang yang memang pernah menjalankan usaha.
Kalau ingin bekerja di bidang tertentu, tanya orang yang sudah berada di bidang tersebut.
Jangan hanya meminta nasihat kepada teman yang usianya sama dan sama-sama belum mempunyai pengalaman.
Teman bisa menjadi tempat berdiskusi.
Tetapi keputusan besar membutuhkan pandangan dari orang yang sudah melihat kehidupan lebih jauh.
Tidak Semua Orang Harus Mengambil Jalan yang Sama
Ada yang cocok menjadi ustaz.
Ada yang cocok berdagang.
Ada yang cocok kuliah lebih tinggi.
Ada yang cocok masuk dunia teknologi.
Ada yang cocok menjadi petani.
Ada yang cocok menjadi pegawai.
Ada yang akhirnya menjadi pengusaha.
Tidak ada kewajiban bahwa seluruh alumni pesantren harus mempunyai profesi yang sama.
Yang lebih penting adalah nilai yang dibawa dalam profesi itu.
Kalau menjadi pedagang, jadilah pedagang yang amanah.
Kalau menjadi pegawai, jadilah pegawai yang jujur.
Kalau menjadi pengusaha, jangan menzalimi karyawan.
Kalau menjadi guru, ajarkan ilmu dengan benar.
Pesantren tidak akan kehilangan manfaat hanya karena alumninya masuk banyak bidang.
Justru alumni yang tersebar di berbagai profesi bisa membawa nilai baik ke lebih banyak tempat.
Untuk Kalian yang Baru Lulus: Jangan Terburu-buru Menentukan Seluruh Hidup
Jadi kalau hari ini kamu baru selesai mondok dan masih bingung, tidak perlu panik.
Kamu belum harus mempunyai jawaban untuk semua hal.
Yang penting sekarang tentukan langkah berikutnya dengan pertimbangan yang matang.
Kalau masih perlu belajar, lanjutkan belajar.
Kalau mendapatkan kesempatan pengabdian yang baik dan kamu masih cukup muda, ambil pengalaman itu.
Kalau kondisi keluarga memang mengharuskan kamu bekerja, bekerjalah dengan sungguh-sungguh sambil tetap meningkatkan kemampuan.
Kalau ingin usaha, jangan hanya bermodal semangat. Belajarlah dulu.
Yang tidak baik adalah tidak melakukan apa-apa dan tidak mempunyai usaha untuk berkembang.
Jangan terlalu santai karena merasa masih muda.
Tetapi juga jangan terlalu terburu-buru karena merasa semua harus dicapai sekarang.
Gunakan masa muda dengan seimbang.
Lalu Bagaimana dengan Mereka yang Sudah Belajar dan Sudah Mengabdi?
Nah, ini berbeda.
Ada orang yang sudah menyelesaikan proses belajarnya.
Sudah pernah mengabdi.
Sudah menjadi musyrif.
Sudah membantu pondok bertahun-tahun.
Sudah menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.
Kemudian ia ingin bekerja, membuka usaha, menyiapkan pernikahan, membangun ekonomi, dan melanjutkan perjalanan hidup.
Menurut saya, untuk orang yang sudah berada di fase itu, jangan dibuat merasa bersalah hanya karena ingin melanjutkan kehidupan.
Karena memang ada waktunya seseorang belajar.
Ada waktunya mengabdi.
Dan ada waktunya membangun kemandirian.
Jangan samakan anak yang baru lulus, belum matang, belum pernah mengabdi, dan belum selesai proses pembentukannya dengan orang yang sudah bertahun-tahun belajar dan memberikan waktunya untuk pengabdian.
Keduanya berada pada fase yang berbeda.
Anak yang masih sangat muda mungkin memang perlu ditahan sedikit agar tidak terburu-buru mengejar dunia.
Tetapi orang yang sudah cukup matang dan sudah menjalankan kewajibannya juga jangan terus-menerus ditahan seolah ingin bekerja berarti kehilangan semangat agama.
Itu tidak adil.
Kalau Sudah Waktunya Melangkah, Melangkahlah dengan Cara yang Baik
Untuk kalian yang sudah belajar, sudah mengabdi, dan sekarang ingin melanjutkan kehidupan, persiapkan diri dengan baik.
Jangan hanya keluar karena capek.
Jangan hanya keluar karena emosi.
Buat rencana.
Mau bekerja di mana?
Kemampuan apa yang dimiliki?
Berapa target tabungan?
Apakah ingin usaha?
Apakah perlu mengambil kursus?
Apakah ingin menikah dalam beberapa tahun ke depan?
Bagaimana membantu orang tua?
Semakin dewasa, keputusan kita harus semakin terencana.
Dan ketika sudah bekerja nanti, jangan merasa hubungan dengan pondok harus terputus.
Kalian masih bisa membantu dengan cara lain.
Dulu mungkin membantu dengan tenaga.
Setelah bekerja bisa membantu dengan jaringan.
Setelah usaha berkembang mungkin membantu dengan dana.
Kalau punya kemampuan tertentu bisa membantu dengan keahlian.
Ta’awun tidak harus selalu mempunyai bentuk yang sama sepanjang hidup.
Penutup
Kalau kamu masih sangat muda, baru sekali menyelesaikan satu tahap pendidikan, belum pernah mengabdi, dan masih mempunyai banyak kesempatan belajar, jangan terlalu cepat mengejar kehidupan orang dewasa.
Bangun dulu kemampuanmu.
Matangkan cara berpikirmu.
Ambil pengalaman.
Belajar bertanggung jawab.
Persiapkan dirimu supaya ketika waktunya bekerja, kamu tidak hanya punya tenaga, tetapi juga punya kemampuan dan prinsip.
Tetapi kalau kamu sudah menyelesaikan masa belajar, sudah mengabdi, sudah menjalankan amanah, dan sekarang ingin bekerja untuk membangun masa depan, jangan merasa bersalah.
Lanjutkan perjalananmu dengan baik.
Cari rezeki yang halal.
Bangun ekonomi.
Siapkan keluarga.
Bantu orang tua.
Jaga hubungan dengan guru dan pondok.
Dan kalau suatu hari Allah memberikan kelapangan, kembalilah membantu dengan kemampuan yang lebih besar.
Karena yang perlu kita pahami bukan semua orang harus terus berada pada fase yang sama.
Yang masih waktunya belajar, belajarlah.
Yang masih waktunya dibentuk, jangan buru-buru.
Yang masih perlu mengabdi, ambillah pelajarannya.
Dan yang sudah selesai belajar dan mengabdi, silakan melanjutkan kehidupan dengan tanggung jawab.
Bukan soal siapa yang paling cepat berjalan. Yang penting adalah tahu kapan harus belajar, kapan harus bertahan, dan kapan memang sudah waktunya melangkah.
