Santri Setelah Mondok Benarkah Harus Selalu di Pondok?

Admin CS
2
 

Ada satu anggapan yang cukup sering muncul di sebagian lingkungan pesantren: ketika seorang santri selesai mondok lalu memilih bekerja, merintis usaha, atau fokus membangun masa depan, ia dianggap mulai futur, kurang semangat dalam perjuangan, atau bahkan dianggap susah diajak ta’awun.

 Kalimat seperti:

"Dulu waktu di pondok semangat, sekarang sudah keluar malah sibuk kerja.”

atau:

“Kalau benar-benar niatnya ikhlas, harusnya masih mau terus ta’awun.”

mungkin terdengar sederhana. Namun kalau dipikir lebih dalam, persoalannya tidak sesederhana itu.


Ada perbedaan besar antara meninggalkan nilai-nilai pesantren dengan meninggalkan kehidupan di dalam pesantren. Seseorang bisa saja sudah tidak tinggal di pondok, tetapi tetap membawa ilmu, adab, kedisiplinan, semangat dakwah, kesederhanaan, dan nilai-nilai yang dahulu ia pelajari.


Karena itu, menyimpulkan bahwa seorang alumni yang memilih bekerja berarti futur merupakan penilaian yang terlalu cepat dan kurang adil.
 

Futur Tidak Bisa Diukur dari Seseorang Masih Tinggal di Pondok atau Tidak 

Futur dalam kehidupan beragama berkaitan dengan menurunnya semangat seseorang dalam ketaatan dan amal kebaikan. Maka ukurannya seharusnya bukan sekadar: apakah dia masih tinggal di pondok, apakah dia masih menjadi musyrif, atau apakah dia masih membantu kegiatan pondok setiap hari.

Seseorang bisa saja keluar dari pondok, dengan dia bekerja, berdagang, menikah, membangun usaha, tetapi dia tetap menjaga salat, menuntut ilmu, menjaga akhlak, bersedekah, berdakwah, membantu masyarakat, dan tetap memiliki hubungan baik dengan pesantrennya.


Sebaliknya, keberadaan seseorang secara fisik di lingkungan pesantren juga tidak otomatis menjadi bukti bahwa kondisi ruhiyahnya selalu lebih baik. Artinya, tempat seseorang berada tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran kualitas keagamaannya.


Maka kurang tepat jika pilihan seorang santri untuk bekerja setelah selesai mondok langsung diberi label “futur”. Bisa jadi justru ia sedang memasuki bentuk perjuangan yang berbeda.


Dulu perjuangannya adalah belajar dan mengabdi. Sekarang perjuangannya adalah mencari nafkah halal, membangun kemandirian, membantu orang tua, menyiapkan pernikahan, membangun keluarga, dan suatu hari mungkin membantu lebih banyak orang. 


Ta’awun Itu Luas, Bukan Hanya Mengabdi di Satu Tempat 

Ta’awun adalah salah satu nilai besar dalam Islam. Allah berfirman:“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” QS. Al-Ma’idah: 2


Tetapi makna ta’awun sangat luas. Ta’awun tidak hanya berarti membantu satu lembaga, tidak hanya berarti menjadi pengurus pondok, tidak hanya berarti menjadi musyrif, dan tidak pula selalu berarti memberikan tenaga secara langsung.

 

Seseorang bisa melakukan ta’awun kepada orang tua, keluarga, tetangga, masyarakat, masjid, lembaga pendidikan, orang miskin, kegiatan dakwah, korban bencana, santri yang membutuhkan biaya, atau berbagai bentuk kebaikan lainnya.

 

Ada yang membantu dengan tenaga, ada yang membantu dengan ilmu, ada yang membantu dengan pikiran, ada yang membantu dengan jaringan, ada yang membantu dengan profesinya, dan ada pula yang membantu dengan hartanya. Semuanya bisa menjadi bentuk ta’awun.

 

Karena itu, tidak seharusnya makna ta’awun dipersempit seolah-olah:“Kalau tidak terus membantu pondok dengan tenaga, berarti sudah tidak mau ta’awun.”


Padahal bisa jadi seseorang sedang membangun kemampuan supaya beberapa tahun kemudian ia mampu memberikan manfaat yang jauh lebih besar.

 

Ada Saatnya Belajar, Ada Saatnya Mengabdi, dan Ada Saatnya Melanjutkan Kehidupan


Dalam kehidupan
 manusia selalu ada fase. Ada masa belajar, ada masa mengabdi, ada masa mencari pengalaman, ada masa bekerja, ada masa membangun usaha, ada masa menikah, ada masa membesarkan anak, dan ada pula masa ketika seseorang kembali memberikan kontribusi lebih besar kepada tempat ia dahulu belajar.


Kalau seorang santri sudah menyelesaikan masa belajarnya, pernah mengabdi, bahkan pernah menjadi musyrif, menurut saya tidak proporsional apabila ketika ia ingin mulai bekerja kemudian dianggap meninggalkan perjuangan.


Tentu ada pengecualian. Apabila sejak awal ada akad, kontrak, nazar, beasiswa dengan kewajiban pengabdian selama periode tertentu, atau amanah tertentu yang memang belum selesai, maka kewajiban tersebut harus ditunaikan sesuai kesepakatan.

Tetapi apabila kewajiban itu memang sudah selesai, maka seseorang berhak melanjutkan kehidupannya.

Tidak semua alumni harus memiliki jalan hidup yang sama. Tidak semua harus menjadi ustaz. Tidak semua harus menjadi musyrif. Tidak semua harus menetap di lingkungan pesantren.

Justru keberagaman jalan hidup alumni bisa menjadi kekuatan besar bagi pesantren itu sendiri.


Mencari Rezeki Bukan Lawan dari Kehidupan Santri

Ada kesan seolah-olah ketika seorang santri mulai berbicara tentang pekerjaan, penghasilan, usaha, rumah, kendaraan, tabungan, atau investasi, berarti orientasinya mulai terlalu duniawi.

Padahal mencari rezeki yang halal adalah bagian dari kehidupan seorang Muslim.

Allah berfirman setelah perintah salat Jumat: “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah.” QS. Al-Jumu’ah: 10


Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa tidak ada makanan yang lebih baik daripada makanan yang diperoleh seseorang dari hasil kerja tangannya sendiri.


Maka bekerja bukan sesuatu yang memalukan. Berdagang bukan sesuatu yang rendah. Menjadi pengusaha bukan tanda seseorang meninggalkan agama. Membangun ekonomi bukan berarti meninggalkan akhirat.


Justru ekonomi yang kuat bisa menjadi sarana ibadah yang sangat besar apabila berada di tangan orang yang baik.

Dengan ekonomi yang kuat, seseorang bisa membantu orang tuanya, membiayai keluarganya, membantu pendidikan anaknya, membantu saudara, membangun masjid, memberikan beasiswa, membantu pondok, menyumbang pembangunan, membantu kegiatan dakwah, membuka lapangan pekerjaan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat yang jauh lebih luas.


“Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah”


Ada satu prinsip Nabi ﷺ yang sangat relevan dalam persoalan ini:

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”


Maksudnya, tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang meminta. Hadis ini seharusnya juga melahirkan cara pandang bahwa seorang Muslim perlu didorong menuju kemandirian.

Bukan untuk menjadi sombong. Bukan untuk berlomba-lomba dalam kemewahan. Tetapi agar memiliki kemampuan untuk memberi.

Bayangkan seorang alumni pesantren yang dahulu membantu pondok dengan tenaga. Beberapa tahun kemudian ia menjadi pengusaha sukses. Ia mempunyai puluhan karyawan, setiap tahun membantu pembangunan pondok, memberikan beasiswa kepada santri, membantu gurunya, dan membiayai kegiatan dakwah.

Bukankah itu juga bentuk ta’awun?
Bahkan mungkin manfaatnya jauh lebih besar daripada sekadar terus berada di pondok dalam keadaan ekonominya tidak berkembang.

Maka tidak selalu benar bahwa meninggalkan pengabdian fisik berarti meninggalkan perjuangan. Kadang seseorang harus keluar terlebih dahulu untuk tumbuh, kemudian kembali dengan kapasitas yang lebih besar.

 


Ikhlas Tidak Berarti Mengabaikan Kebutuhan Hidup

Ada juga pembahasan yang menurut saya perlu dilakukan secara realistis: soal mukafaah atau kompensasi selama pengabdian.

Misalnya seseorang menerima mukafaah sekitar Rp150.000 per bulan. Bisa jadi bagi sebagian orang hal itu dianggap bagian dari latihan keikhlasan dan pengabdian, dan tidak ada masalah apabila seseorang memang menerimanya dengan ridha.

Tetapi kita juga perlu memahami bahwa kehidupan terus berjalan.

Seseorang yang hari ini masih bujang, beberapa tahun lagi mungkin akan menikah. Ia membutuhkan biaya untuk pernikahan, tempat tinggal, kebutuhan rumah tangga, kesehatan, transportasi, pendidikan anak, kebutuhan orang tua, dana darurat, modal usaha, dan berbagai kebutuhan lain.

Harga kebutuhan hidup juga terus meningkat.

Karena itu, keinginan seorang alumni untuk mulai mencari penghasilan yang lebih layak seharusnya tidak langsung dianggap sebagai hilangnya keikhlasan.

Ikhlas bukan berarti seseorang tidak boleh memikirkan masa depan.

Ikhlas adalah persoalan niat, sementara mempersiapkan kehidupan adalah persoalan tanggung jawab. Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Seseorang bisa mengabdi dengan ikhlas pada satu masa, kemudian pada masa berikutnya bekerja keras mencari rezeki dengan niat yang baik.


Hidup Sederhana Tidak Sama dengan Harus Miskin

Ini barangkali salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi.
Santri memang diajarkan hidup sederhana. Tetapi:

Sederhana tidak sama dengan miskin.

Zuhud juga bukan berarti seseorang harus tidak memiliki harta. Zuhud berkaitan dengan bagaimana posisi dunia di dalam hati.

Seseorang bisa mempunyai harta banyak tetapi hidup sederhana, dermawan, rendah hati, dan tidak diperbudak oleh hartanya. Sebaliknya, seseorang bisa hidup miskin tetapi pikirannya dipenuhi kecintaan terhadap dunia.

Jadi kaya dan miskin bukan ukuran tunggal kezuhudan.

Yang terpenting adalah: dari mana hartanya diperoleh, untuk apa hartanya digunakan, dan apakah hartanya membuatnya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh.

Kalau seorang santri menjadi pengusaha besar tetapi tetap salat, menjaga akhlak, berbakti kepada orang tua, membantu pesantren, membangun masjid, dan banyak bersedekah, apa yang salah?

Tidak ada yang salah dengan santri menjadi kaya.

Yang salah adalah kalau kekayaan membuat seseorang sombong, zalim, lupa agama, atau menghalalkan segala cara.


Pesantren Juga Membutuhkan Alumni yang Kuat Secara Ekonomi

Mari melihat persoalan ini dari sudut pandang yang sangat praktis.

Pondok membutuhkan pembangunan, tanah, ruang kelas, asrama, kendaraan operasional, beasiswa, biaya pendidikan, teknologi, kegiatan dakwah, dan berbagai biaya operasional lainnya.

Dari mana semua itu berasal?
Sebagian tentu dari donatur dan masyarakat. Tetapi bukankah akan sangat baik apabila salah satu kekuatan ekonomi pesantren justru berasal dari alumninya sendiri?

Sekarang bayangkan apabila sejak awal seluruh alumni diberikan kesan: “Tidak usah terlalu memikirkan ekonomi. Yang penting terus mengabdi.”


Lalu dua puluh tahun kemudian pesantren membutuhkan dana besar untuk pembangunan.

Pertanyaannya sederhana:

Siapa yang akan membantu kalau tidak ada alumni yang dibangun menjadi kuat secara ekonomi?

Karena itu, menurut saya pesantren seharusnya tidak hanya mencetak orang-orang yang kuat secara ilmu dan agama. Pesantren juga perlu melahirkan orang-orang yang mandiri secara ekonomi.


Ada alumni yang menjadi ustaz, guru, pengusaha, dokter, ahli teknologi, petani sukses, profesional, pejabat, peneliti, maupun dermawan.

Mereka semua bisa menjadi bagian dari ekosistem perjuangan yang sama.

Mereka tidak harus berada di tempat yang sama untuk membawa nilai yang sama. 

 


Pengabdian Seharusnya Melahirkan Cinta, Bukan Rasa Bersalah

Pengabdian adalah sesuatu yang sangat mulia. Menjadi musyrif itu mulia. Mengajar santri itu mulia. Membantu kegiatan pondok juga mulia.

Tetapi ada satu hal yang perlu dijaga:

Jangan sampai sebuah nilai yang mulia bernama pengabdian berubah menjadi alat untuk membuat seseorang merasa bersalah ketika ingin melanjutkan kehidupannya.

Seseorang yang selesai mengabdi kemudian memilih bekerja bukan berarti tidak tahu balas budi.

Seseorang yang membangun usaha bukan berarti lupa pondok.

Seseorang yang mengejar kemandirian ekonomi bukan berarti cinta dunia berlebihan.
Dan seseorang yang tidak lagi bisa membantu dengan tenaga bukan berarti tidak mempunyai rasa memiliki.

Hubungan alumni dengan pesantren seharusnya tidak dibangun atas dasar rasa bersalah. Hubungan itu sebaiknya dibangun atas dasar cinta, penghormatan, rasa terima kasih, dan kesadaran.

Karena bantuan yang lahir dari kesadaran biasanya jauh lebih tulus daripada bantuan yang lahir dari tekanan sosial.


Ta’awun Bisa Berubah Bentuk Seiring Bertambahnya Usia

Saat masih muda, mungkin yang kita punya hanya tenaga. Maka kita membantu dengan tenaga.

Ketika mulai bekerja, mungkin kita punya jaringan. Maka kita membantu dengan jaringan.
Ketika usaha mulai berkembang, kita punya uang. Maka kita membantu dengan harta.
Ketika pengalaman semakin banyak, kita punya keahlian. Maka kita membantu dengan ilmu dan pengalaman.

Artinya, bentuk kontribusi seseorang bisa berubah.
Dulu seorang santri mungkin membersihkan aula. Beberapa tahun kemudian dia menyumbangkan biaya pembangunan aula.

Dulu ia membantu mengangkat semen. Beberapa tahun kemudian ia membeli ratusan sak semen.

Dulu ia menjaga santri sebagai musyrif. Beberapa tahun kemudian ia membiayai pendidikan puluhan santri.

Bukankah semuanya tetap pengabdian?

Hanya bentuknya yang berbeda.


Maka Jangan Terlalu Mudah Mengatakan “Futur”

Kata-kata mempunyai dampak.

Ketika seorang alumni yang sedang berjuang membangun kehidupan disebut futur hanya karena tidak lagi aktif mengabdi, bisa jadi kita tidak memahami perjuangan yang sedang ia jalani.

Mungkin dia sedang membantu orang tuanya. Mungkin sedang menabung untuk menikah. Mungkin sedang merintis usaha dari nol. Mungkin sedang menanggung kebutuhan keluarganya. Mungkin sedang berusaha keluar dari kesulitan ekonomi. Atau mungkin dia sedang membangun pondasi agar suatu hari mampu memberikan manfaat lebih besar.
Karena itu, daripada mengatakan:

“Sekarang susah diajak ta’awun.”

Mungkin akan jauh lebih baik mengatakan:

“Semoga pekerjaanmu berkah. Jangan lupakan ilmu yang pernah kamu dapatkan di sini. Kalau suatu hari Allah memberikan kelapangan, bantu perjuangan ini semampumu.”

 Kalimat seperti itu terasa sangat berbeda.

Tidak menekan dan tidak menghakimi, tetapi tetap mengingatkan. Bahkan mungkin justru membuat alumni semakin mencintai pondoknya.




Tidak Harus Memilih antara Akhirat dan Kesuksesan Ekonomi

Pada akhirnya, seorang santri sebenarnya tidak harus memilih antara: menjadi "orang akhirat" atau menjadi orang sukses

Keduanya bisa berjalan bersama.

Kita bisa bekerja keras tetapi tetap salat. Membangun usaha tetapi tetap mengaji. Menjadi kaya tetapi tetap rendah hati. Mempunyai rumah yang baik tetapi tetap sederhana.

Mempunyai perusahaan tetapi tetap bersedekah. Mengejar kesuksesan tetapi tetap ingat pesantren.

Justru kita membutuhkan generasi santri yang seperti itu.

Santri yang kuat akidahnya, luas ilmunya, baik akhlaknya, profesional pekerjaannya, kuat ekonominya, dan besar manfaatnya.

Karena dunia hari ini tidak hanya membutuhkan santri yang pandai berbicara tentang kebaikan. Dunia juga membutuhkan santri yang mampu membangun lembaga, perusahaan, sekolah, teknologi, lapangan pekerjaan, dan berbagai sarana kebaikan.


Penutup

Mengabdi itu mulia. Menjadi musyrif itu mulia. Mengajar itu mulia. Membantu pondok itu mulia.
Tetapi bekerja halal juga mulia. Mencukupi orang tua juga mulia. Mempersiapkan pernikahan juga bagian dari tanggung jawab. Membangun usaha juga bisa menjadi ibadah. Menjadi orang berkecukupan kemudian membantu banyak orang juga merupakan bentuk perjuangan.

Maka ketika seorang santri selesai mondok dan memilih bekerja, jangan terlalu cepat mengatakan ia futur.

Bisa jadi ia sedang melanjutkan perjuangannya di medan yang berbeda.
Dahulu ia berjuang dengan tenaga. Hari ini ia berjuang membangun dirinya. Besok, siapa tahu, ia kembali membantu dengan kemampuan yang jauh lebih besar.

Ta’awun tidak harus berhenti. Bentuknya saja yang bisa berubah.

Dan mungkin cita-cita terbaik bagi seorang alumni pesantren bukan sekadar menjadi orang yang terus meminta bantuan untuk bertahan hidup, melainkan menjadi manusia yang ilmu dan akhlaknya tetap seperti santri, tetapi kehidupannya mandiri, ekonominya kuat, dan tangannya selalu mampu memberi.

Ilmunya santri. Akhlaknya santri. Jiwanya tetap mengabdi. Tetapi ekonominya kuat dan manfaatnya luas.

Tags

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Ana pernah denger ustadz ana bilang waktu ana juga masih "nyantri", dunia dan akhirat ga bisa berjalan bersamaan, kalo memang cari akhirat ngga bisa cari dunia juga bersamaan. Pasti ada yg dikalahkan satunya. Bukan berarti haram hukumnya bekerja atau mencari penghidupan gitu ... Ana dulu di arridho Sewon. Barokallah fiikum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin menurut ustadz yang dimaksud itu bermegah megahan dengan dunia yakan mas, soalnya banyak juga dari para sahabat, tabiin, dan salaf dulu yang mereka juga tajir tapi akhirat tetap dapat.

      Hapus
Posting Komentar

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!