“Lihat tuh, anaknya si A sudah bisa ini.”
“Temanmu nilainya bagus, kamu kok begini?”
“Adikmu saja lebih rajin.”
Kadang kalimat seperti itu keluar bukan karena orang tua ingin menyakiti anak. Justru sebaliknya. Biasanya orang tua sedang berusaha memotivasi. Ingin anaknya lebih rajin, lebih ulet dalam belajar, lebih disiplin, atau lebih punya semangat.
Masalahnya, tidak semua motivasi diterima anak dengan cara yang sama seperti yang dimaksud orang tua. Yang ingin disampaikan mungkin adalah, “Ayo, kamu sebenarnya bisa lebih baik.” Tetapi yang diterima anak bisa berubah menjadi, “Aku ternyata anak yang gagal.” Kalau itu hanya terjadi sekali, mungkin tidak terlalu membekas. Tetapi kalau terus diulang selama bertahun-tahun, perbandingan kecil bisa berubah menjadi cara anak melihat dirinya sendiri.
Ia mulai merasa bahwa ukuran baik atau buruk bukan lagi dari perkembangan dirinya, tetapi dari posisi dirinya dibanding orang lain. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah aku sudah berkembang?” Ia mulai bertanya, “Apakah aku sudah lebih baik dari dia?” Di sinilah masalahnya mulai tumbuh.
Anak yang terlalu sering dibandingkan bisa belajar bahwa nilai dirinya tergantung dari apakah ia berhasil mengalahkan orang lain atau tidak. Kalau nilainya lebih tinggi, ia merasa berharga. Kalau nilainya lebih rendah, ia merasa gagal. Kalau temannya lebih cepat, ia merasa tertinggal. Kalau saudaranya lebih dipuji, ia merasa kurang.
Padahal kemampuan anak memang tidak pernah tumbuh dengan bentuk dan waktu yang sama. Ada anak yang cepat menangkap pelajaran di sekolah, tetapi lambat dalam bersosialisasi. Ada anak yang sangat percaya diri, tetapi akademiknya biasa saja. Ada anak yang pendiam, tetapi sangat teliti. Ada yang cepat membaca, ada yang butuh waktu lebih lama. Ada yang kuat di angka, ada yang kuat di seni, olahraga, bahasa, atau keterampilan lain.
Masalahnya, orang tua sering tanpa sadar memakai satu ukuran untuk semua anak. Yang dianggap bagus biasanya yang mudah dilihat. Nilai tinggi. Ranking. Juara. Cepat membaca. Cepat berhitung. Cepat mandiri. Lalu anak yang berkembang lebih lambat dianggap kurang. Padahal lambat belum tentu buruk. Kadang ia hanya berbeda. Dan berbeda bukan berarti gagal.
Yang lebih perlu diperhatikan adalah apa yang terjadi di dalam diri anak ketika ia terus-menerus merasa kalah dibanding orang lain. Salah satu efek yang paling sering muncul adalah rasa percaya diri yang pelan-pelan turun. Anak bisa mulai ragu pada kemampuannya sendiri. Ia menjadi lebih sering berpikir, “Aku memang nggak bisa.” Bukan karena ia sudah benar-benar mencoba dan gagal, tetapi karena ia sudah terlalu sering diberi kesan bahwa dirinya selalu berada di bawah orang lain.
Kalau ini terjadi terus, anak bisa lebih cepat menyerah. Ia takut mencoba sesuatu yang baru karena takut hasilnya nanti dibandingkan lagi. Ia takut salah. Takut tidak sesuai harapan. Takut mendengar kalimat yang sama. “Lihat, temanmu saja bisa.” Akhirnya anak bisa memilih diam. Bukan karena alasan malas. Bukan karena alasan tidak mau berkembang. Tetapi karena gagal terasa terlalu memalukan.
Saat orang tua melihat anak seperti kehilangan semangat, lalu mengira anaknya tidak punya motivasi. Padahal bisa jadi semangat itu sudah lama terkikis oleh perbandingan yang berulang.
Jika sejak kecil ia terbiasa dengan satu pola: untuk merasa cukup, ia harus lebih unggul dari seseorang dulu baru merasa berhasil. Masalahnya, hidup tidak pernah menyediakan keadaan di mana kita selalu menjadi yang paling baik. Akan selalu ada orang yang lebih pintar. Lebih kaya. Lebih cepat sukses. Lebih terkenal. Lebih beruntung. Lebih cantik. Lebih banyak pencapaian. Kalau harga diri kita dibangun di atas perbandingan, hidup menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai.
Hari ini menang dari satu orang, besok muncul orang lain. Akhirnya anak bisa tumbuh menjadi dewasa yang terlihat ambisius, tetapi di dalam dirinya selalu merasa belum cukup.
Kalau setiap hari ia mendengar, “Kakakmu dulu tidak seperti kamu,” lama-lama bukan hanya dirinya yang terluka. Hubungannya dengan kakak bisa ikut rusak. Begitu juga ketika temannya terus dijadikan contoh. “Si Fulan tuh rajin.” “Si Fulan nilainya bagus.” “Si Fulan lebih nurut.” Bisa saja akhirnya nama anak itu justru memicu rasa kesal. Padahal temannya tidak pernah meminta dijadikan standar.
Dari sini, perbandingan yang tadinya dianggap alat motivasi bisa berubah menjadi bibit iri, persaingan tidak sehat, bahkan jarak dengan saudara sendiri. Yang lebih halus lagi, anak bisa tumbuh menjadi pemburu validasi. Ia merasa tenang hanya ketika dipuji. Merasa berharga hanya ketika diakui. Merasa aman hanya ketika orang lain bilang ia hebat. Karena sejak kecil ia belajar bahwa penerimaan datang bersama pencapaian.
Kalau bagus, dipuji. Kalau kalah, dibandingkan. Kalau berhasil, disayang. Kalau gagal, dipertanyakan. Tentu tidak semua orang tua melakukan ini secara sengaja. Tetapi anak belum tentu memahami niat. Ia lebih banyak mengingat rasa.
Maka ada satu hal yang penting dibedakan. Mendidik anak tidak sama dengan membandingkan anak. Anak tetap perlu diarahkan. Tetap perlu dikoreksi. Tetap perlu diberi target. Tetap perlu dibiasakan disiplin. Tetapi arahan bisa dilakukan tanpa membawa nama anak lain.
Daripada berkata, “Lihat temanmu, dia rajin belajar,” lebih baik mengatakan, “Ayah lihat kamu sebenarnya bisa lebih fokus. Yuk kita coba atur waktu belajarnya.” Daripada, “Adikmu saja lebih rapi,” lebih baik, “Kalau selesai main, mainannya kita kembalikan ke tempatnya ya.”
Perbedaannya terlihat sederhana. Tetapi efeknya besar. Kalimat pertama menyerang identitas anak dengan perbandingan. Kalimat kedua membahas perilaku yang bisa diperbaiki. Anak jadi tahu apa yang salah tanpa merasa bahwa dirinya lebih rendah dari orang lain.
Orang tua juga perlu hati-hati dengan kebiasaan hanya memuji hasil. Kadang anak baru dianggap hebat ketika nilainya tinggi. Baru dipuji ketika menang lomba. Baru diperhatikan ketika ranking naik. Padahal usaha juga penting. Anak yang tadinya malas belajar lalu mulai mau duduk 20 menit dengan sungguh-sungguh, itu perkembangan. Anak yang biasanya langsung menangis lalu mulai berani mencoba lagi, itu perkembangan. Anak yang dulu sulit berbagi lalu mulai mau berbagi, itu juga perkembangan.
Tidak semua kemajuan bisa dilihat dari angka. Kadang perkembangan karakter justru lebih penting daripada ranking. Yang perlu dibiasakan mungkin bukan bertanya, “Kenapa kamu tidak seperti dia?” Tetapi: “Apa yang dibutuhkan anakku supaya dia bisa berkembang lebih baik?”
Pertanyaan itu jauh lebih sehat. Karena jawabannya bisa berbeda-beda. Mungkin anak butuh metode belajar yang berbeda. Mungkin ia belum menemukan minatnya. Mungkin ia sedang lelah. Mungkin ia butuh lebih banyak waktu. Mungkin ia hanya butuh didampingi. Mungkin ia sebenarnya sudah berusaha, tetapi usahanya tidak terlihat.
Dan mungkin juga orang tua perlu belajar menerima bahwa anaknya tidak harus menjadi seperti anak orang lain. Ini bukan berarti pasrah. Bukan berarti membiarkan anak tanpa target. Tetapi target itu sebaiknya disesuaikan dengan dirinya sendiri.
Kalau mau membandingkan, mungkin ada satu perbandingan yang jauh lebih adil: bandingkan anak dengan dirinya sendiri yang kemarin. Apakah sekarang lebih mandiri? Lebih berani? Lebih sabar? Lebih tertib? Lebih mau mencoba? Lebih bertanggung jawab? Kalau iya, berarti ada pertumbuhan. Walaupun belum sama seperti anak lain.
Karena tujuan orang tua bukan mencetak anak menjadi salinan seseorang. Tujuannya membantu anak tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Anak tidak harus menjadi yang paling cepat. Tidak harus menjadi yang paling pintar. Tidak harus menjadi yang paling menonjol. Yang lebih penting, ia tumbuh dengan rasa percaya diri yang sehat, tahu bahwa dirinya tetap berharga meskipun belum sempurna, dan berani terus belajar tanpa takut dipermalukan.
Kadang satu kalimat dari orang tua terlihat kecil. Tetapi bagi anak, kalimat itu bisa tinggal sangat lama. Ada anak yang sampai dewasa masih mengingat, “Dulu aku selalu dibandingkan.” Dan ada juga anak yang sampai dewasa masih mengingat, “Dulu orang tuaku selalu percaya bahwa aku bisa berkembang.”
Dua pengalaman itu bisa menghasilkan cara pandang yang sangat berbeda terhadap diri sendiri. Karena itu mungkin sebelum membandingkan anak dengan anak orang lain, ada satu pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah kalimat ini benar-benar akan membuat anakku tumbuh, atau hanya membuatnya merasa kalah?
