Kalimat itu kedengarannya si kayak wajar. Bahkan kalau hanya didengar sepintas, tidak ada yang terasa salah. Orang tua bekerja bertahun-tahun, membayar sekolah, membeli makanan, pakaian, obat ketika anak sakit, mengantar ke sana kemari, menahan lelah, dan mungkin mengorbankan banyak keinginannya sendiri demi anak. Ketika kelak anak dewasa dan orang tua mulai menua, rasanya masuk akal kalau anak kemudian gantian menjaga.
Tetapi semakin dipikirkan, aku justru merasa ada satu pertanyaan yang menarik: benarkah anak itu investasi?
Kalau iya, investasi dalam arti apa?
Sebab kita mengenal investasi sebagai sesuatu yang kita tanam sekarang dengan harapan mendapatkan hasil di kemudian hari. Kita membeli tanah karena berharap nilainya naik. Kita menyimpan uang dalam suatu instrumen agar bertambah. Kita membangun usaha supaya suatu saat menghasilkan keuntungan.
Kalau pengertian yang sama diterapkan kepada anak, persoalannya menjadi berbeda. Apakah kita mengeluarkan biaya membesarkan anak hari ini dengan harapan suatu hari anak itu memberikan keuntungan kembali kepada kita?
Pertanyaan inilah yang menurutku penting buat kita bahas. Terlebih ketika kita mencoba melihatnya dari sudut pandang agama.
Al-Qur'an Tidak Menyebut Anak Sebagai Dana Pensiun
Menariknya, ketika Al-Qur'an berbicara tentang anak, salah satu istilah yang digunakan justru bukan “investasi”, melainkan fitnah, yaitu ujian atau cobaan.
Allah berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 28:
وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَـٰدُكُمْ فِتْنَةٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌۭ
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)
Kata fitnah pada ayat ini bukan berarti fitnah seperti yang biasa kita gunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak benar. Dalam konteks ayat tersebut, maknanya adalah ujian. Harta adalah ujian. Anak juga ujian.
Artinya, ketika seseorang diberi anak, persoalannya bukan semata-mata tentang apa yang suatu hari bisa ia dapatkan dari anak tersebut. Justru orang tua sedang mendapatkan sebuah tanggung jawab yang kelak juga akan dipertanggungjawabkan.
Ini penting karena terkadang cara kita memandang anak terbalik. Anak dianggap sebagai orang yang berutang kepada orang tua karena sejak kecil telah diberi makan, tempat tinggal dan pendidikan. Padahal sebelum berbicara tentang kewajiban seorang anak kepada orang tuanya, ada fase panjang ketika orang tualah yang memegang tanggung jawab terhadap anak.
Allah berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَـٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌۭ شِدَادٌۭ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini membuat pembicaraan tentang anak menjadi jauh lebih besar daripada sekadar persoalan biaya hidup.
Ada tanggung jawab pendidikan.
Ada tanggung jawab agama.
Ada tanggung jawab akhlak.
Ada tanggung jawab menjaga keluarga agar tidak tumbuh tanpa arah.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan tentang tanggung jawab ini. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka...” HR. al-Bukhari no. 7138, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Hadis sahih.
Kalau direnungkan, hadis ini menarik. Ketika anak masih berada dalam tanggungan kita, yang ditanya bukan terlebih dahulu, “Apa yang anak itu berikan kepadamu?” Tetapi justru kita yang akan ditanya tentang mereka.
Sudahkah dididik dengan baik?
Sudahkah diarahkan?
Sudahkah diberi hak-haknya?
Sudahkah rumah menjadi tempat yang aman baginya?
Maka sejak awal, posisi anak dalam keluarga memang lebih dekat kepada amanah yang harus dijaga daripada aset yang sedang dipersiapkan untuk menghasilkan keuntungan.
Tetapi Bukankah Ada Hadis Tentang Anak Saleh yang Menjadi Amal Setelah Kita Meninggal?
Ada. Dan hadisnya sahih.
Bahkan mungkin inilah salah satu alasan mengapa banyak orang kemudian menyebut anak sebagai “investasi akhirat”.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” HR. Muslim no. 1631, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih.
Di sinilah menurutku istilah “investasi” masih bisa dipahami, tetapi maknanya harus diluruskan.
Kalau seseorang mengatakan anak adalah investasi akhirat karena ia berharap anak yang dididiknya menjadi saleh, berbuat baik dan kelak mendoakannya setelah ia meninggal, maka ada dasar yang jelas untuk memahami harapan itu. Hadis di atas memang menunjukkan bahwa doa anak saleh dapat terus menjadi sebab datangnya pahala bagi orang tua setelah meninggal.
Tetapi perhatikan bentuk “hasilnya”.
Bukan gaji anak.
Bukan rumah yang dibelikan anak.
Bukan uang bulanan dari anak.
Bukan mobil.
Bukan pula jaminan bahwa seluruh kebutuhan orang tua pasti akan ditanggung anak sampai akhir hayat.
Yang disebut Rasulullah ﷺ justru doa anak yang saleh.
Di situ aku merasa ada perbedaan yang sangat jauh antara “investasi akhirat” dengan “investasi ekonomi”.
Satu dibangun dengan pendidikan, keteladanan, agama dan kasih sayang.
Yang lain mudah sekali berubah menjadi hitung-hitungan.
“Ayah sudah menyekolahkanmu.”
“Ibu dulu keluar uang banyak untukmu.”
“Kamu sekarang sudah bekerja, masa tidak bisa memberikan sekian?”
Kalimat seperti itu mungkin dalam keadaan tertentu terasa biasa. Tetapi kalau menjadi dasar hubungan orang tua dan anak, hubungan keluarga bisa berubah perlahan menjadi semacam transaksi yang tidak pernah memiliki angka akhir.
Karena memang berapa harga seorang anak sejak lahir sampai dewasa?
Tidak ada angka yang benar-benar bisa menghitungnya.
Begitu juga sebaliknya. Berapa rupiah harga kasih sayang seorang ibu? Berapa harga ayah yang pulang malam karena bekerja? Berapa harga seseorang yang berjaga ketika anaknya sakit?
Tidak bisa dihitung.
Dan mungkin memang tidak seharusnya dihitung.
Anak Tidak Meminta Dilahirkan
Ada satu hal kenyataan yang harusnya orang tua ingat bahwa: anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan.
Keputusan menghadirkan seorang anak ke dunia dibuat oleh orang tua. Karena itulah ketika anak kemudian membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, perlindungan dan pendidikan, semua itu pada dasarnya merupakan bagian dari tanggung jawab yang mengikuti keputusan tersebut.
Ini bukan berarti seorang anak boleh melupakan jasa orang tuanya.
Sama sekali bukan!
Islam justru memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada kedua orang tua.
Allah berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّۢ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًۭا كَرِيمًۭا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra: 23)
Kemudian Allah melanjutkan:
وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًۭا
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS. Al-Isra: 24)
Jadi pembahasannya sebenarnya tidak perlu dibuat seolah-olah orang tua dan anak sedang berdiri di dua kubu yang bertentangan.
Islam mengajarkan keduanya.
Orang tua memiliki tanggung jawab kepada anak.
Anak memiliki kewajiban berbuat baik kepada orang tua.
Yang menjadi masalah adalah ketika salah satu hubungan itu diubah menjadi semata-mata hitungan ekonomi.
Orang tua mengatakan, “Karena aku sudah membesarkanmu, hidupmu sekarang harus memikul kebutuhan masa tuaku.”
Atau sebaliknya, anak mengatakan, “Karena membesarkan anak memang kewajiban orang tua, berarti aku sama sekali tidak perlu peduli kepada mereka.”
Dua-duanya itu bukan yang aku maksudkan!
Hubungan keluarga seharusnya lebih luas daripada itu.
Lalu Kalau Dilihat dari Sudut Dunia, Apakah Anak Bisa Disebut Investasi?
Kalau yang dimaksud adalah investasi keuangan, menurutku kita perlu berhati-hati memakai istilah tersebut.
Dalam investasi keuangan biasanya ada modal, ada aset, ada risiko dan ada harapan memperoleh imbal hasil. Ketika seseorang membeli tanah, ia berharap harga tanah naik. Ketika ia membangun usaha, ia berharap usaha tersebut menghasilkan laba. Ketika ia menaruh uang dalam instrumen investasi, ia berharap nilai uangnya berkembang.
Anak tidak bekerja dengan cara seperti itu.
Kita bisa menghabiskan uang sangat banyak untuk membesarkan seorang anak, tetapi kita sama sekali tidak memiliki jaminan ekonomi atas kehidupan anak tersebut kelak.
Ia bisa jadi tumbuh menjadi orang yang sangat sukses.
Bisa jadi penghasilannya biasa-biasa saja.
Bisa jadi harus menghidupi keluarganya sendiri.
Bisa jadi punya anak.
Bisa jadi sedang berjuang untuk membuat rumah.
Bisa jadi tinggal ribuan kilometer dari orang tuanya.
Hidup terlalu rumit untuk menjadikan seseorang sebagai “instrumen investasi”.
Bayangkan orang tua berusia 65 tahun yang seluruh rencana masa tuanya hanya satu kalimat:
“Nanti ada anak.”
Sementara anaknya berusia 35 tahun dan sedang menanggung kebutuhan rumah tangganya sendiri, biaya sekolah dua anak, menabung untuk membeli rumah dan kebutuhan sehari-hari.
Anaknya mungkin sangat sayang kepada orang tua. Sangat ingin membantu. Tetapi kemampuan finansial seseorang tetap mempunyai batas.
Di sinilah menurut saya perencanaan keuangan orang tua tetap penting.
Kalau masih mempunyai kemampuan ketika muda, menabunglah.
Punya dana darurat.
Bangun usaha kalau memungkinkan.
Punya aset yang menghasilkan jika mampu.
Persiapkan biaya kesehatan.
Persiapkan masa ketika tenaga tidak lagi sama seperti sekarang.
Bukan karena kita tidak mempercayai anak, tetapi justru karena kita menyayanginya.
Jika kelak anak tetap membantu, kita menerimanya sebagai bentuk baktinya. Bukan sebagai tagihan yang sejak ia kecil diam-diam sudah kita catat.
Anak Bisa Menjadi “Investasi”, Tetapi Mungkin Bukan Seperti yang Kita Bayangkan
Semakin lama aku memikirkan kalimat “anak adalah investasi”, semakin aku merasa bahwa masalahnya mungkin bukan pada kata investasi itu sendiri. Masalahnya adalah hasil seperti apa yang kita harapkan dari investasi tersebut.
Jika yang kita tanam adalah uang supaya suatu hari mendapat uang lebih banyak, anak bukan tempatnya.
Tetapi kalau yang kita tanam adalah pendidikan, akhlak, nilai agama, kasih sayang, kebiasaan baik dan keteladanan, lalu kita berharap semua itu tumbuh menjadi manusia yang baik, istilah investasi terasa lebih masuk akal.
Kita mungkin membesarkan seorang anak yang kedepannya ternyata biasa biasa aja.
Tetapi ia jujur.
Ia tidak mengambil hak orang lain.
Ia menjadi suami atau istri yang baik.
Ia membesarkan cucu kita dengan kasih sayang.
Ia bekerja dengan halal.
Ia bermanfaat untuk banyak orang.
Ia masih mengingat nama orang tuanya dalam sujud ketika orang tuanya sudah lama berada di dalam tanah.
Kalau hasil akhirnya seperti itu, bukankah sebenarnya keuntungan yang kita dapat jauh lebih besar daripada sekadar transfer bulanan?
Dan lucunya, sering kali anak yang dibesarkan tanpa terus-menerus diingatkan tentang “utang kepada orang tua” justru tumbuh mempunyai keinginan sendiri untuk menjaga orang tuanya.
Ia memberi bukan karena takut disebut durhaka.
Ia menelepon bukan karena disuruh.
Ia pulang bukan karena ditagih.
Ia membantu karena merasa orang tuanya adalah bagian dari hidup yang ingin ia jaga.
Menurut saya, bentuk seperti inilah yang jauh lebih indah.
Kita Juga Tidak Tahu Anak Akan Menjadi Ujian dalam Bentuk Apa
QS. Al-Anfal ayat 28 tadi menyebut anak sebagai ujian. Kadang kita membaca ayat tersebut dan langsung membayangkan anak yang nakal atau sulit diatur.
Padahal ujian melalui anak bentuknya bisa bermacam-macam.
Anak yang sangat pintar bisa menjadi ujian bagi kesombongan orang tuanya.
Anak yang sukses bisa menjadi ujian ketika orang tua mulai menjadikan keberhasilan anak sebagai bahan membandingkan dengan keluarga lain.
Anak yang belum sukses juga ujian: apakah kita tetap menghargainya atau justru memperlakukannya seolah-olah gagal menjadi “investasi”.
Tapi mirisnya ada orang tua yang tanpa sadar "merasa berhak" menentukan pekerjaan anak, pasangan anak, tempat tinggal anak, bahkan penggunaan penghasilannya, dengan alasan:
“Dari kecil siapa yang membiayai kamu?”
Padahal kasih sayang tidak seharusnya berubah menjadi kepemilikan.
Anak memang berasal dari keluarga kita. Tetapi ia tetap manusia yang suatu hari memiliki kehidupan, keluarga, keputusan dan pertanggungjawabannya sendiri di hadapan Allah.
Mendidik anak sampai mampu berdiri sendiri mungkin justru salah satu pekerjaan terbesar orang tua.
Kita menggandeng tangannya ketika kecil supaya suatu hari kita berani melepaskannya.
Bukan menggandengnya seumur hidup karena takut kehilangan tempat bergantung.
Lantas Siapa yang Merawat Kita Ketika Tua?
Ini mungkin pertanyaan yang paling jujur.
Kalau anak tidak boleh dianggap sebagai dana pensiun, lalu siapa yang menjaga orang tua ketika sudah tua?
Aku rasa jawabannya tidak perlu di lebay lebaykan.
Tidak ada yang salah dengan berharap anak membantu kita.
Tidak ada yang salah dengan berharap suatu hari anak menemani kita ke dokter, mengirim uang ketika kita kesulitan, memperbaiki rumah atau sekadar datang membawa cucu saat silaturrahmi.
Harapan seperti itu manusiawi.
Terlebih Al-Qur'an memang memerintahkan seorang anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, bahkan secara khusus menyebut keadaan ketika keduanya mencapai usia lanjut.
Yang mungkin perlu kita hindari adalah menjadikan harapan itu sebagai satu-satunya rencana.
Ada perbedaan besar antara berkata:
“Semoga anak-anak nanti tetap peduli kepada kita sebagai orang tua.”
dengan:
“Untuk apa menabung? Nanti kan ada anak yang menanggung.”
Yang pertama adalah harapan.
Yang kedua sudah menjadi strategi keuangan.
Dan menurutku di situlah istilah “anak adalah investasi” mulai berbahaya jika dipahami terlalu harfiah.
Daripada mengatakan, “Anak adalah investasi masa tua,” aku lebih nyaman untuk mengatakan:
Anak adalah amanah hari ini yang mudah-mudahan menjadi kebaikan sampai akhirat nanti.
