Kisah Ibn Hazm, dari Istana Córdoba hingga Buku-Bukunya Dibakar

Admin CS
0

 

Córdoba pada penghujung abad keempat Hijriah bukan sekadar sebuah kota. Ia adalah salah satu wajah paling terang dari Andalus. Di sana berdiri istana, masjid, taman, perpustakaan, pasar, rumah-rumah para pejabat, serta majelis ilmu yang mempertemukan para ahli fikih, bahasa, sastra, kedokteran, dan berbagai cabang pengetahuan. 


Di tengah kota yang hidup dengan ilmu sekaligus politik itulah, pada tahun 384 Hijriah atau 994 Masehi, lahir seorang anak bernama Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Kelak dunia mengenalnya dengan nama Ibn Hazm al-Andalusi.


Ia tidak dilahirkan di sebuah rumah yang asing dari kekuasaan. Ayahnya, Ahmad bin Sa‘id, merupakan seorang pejabat tinggi yang dekat dengan pemerintahan Bani Umayyah di Córdoba. Karena kedudukan ayahnya itu, masa kecil Ibn Hazm berlangsung di lingkungan yang jauh berbeda dengan kebanyakan anak pada zamannya. 


Ia mengenal rumah-rumah besar, tata kehidupan keluarga pejabat, percakapan para orang berpendidikan, serta perubahan suasana politik yang datang dari pusat kekuasaan. Di hadapannya terbentang dunia yang terlihat kokoh. Kekhalifahan masih berdiri. Córdoba masih bersinar. Keluarganya mempunyai kedudukan. Seolah-olah masa depan telah menyediakan jalan yang lurus baginya.


Namun Andalus sedang mendekati satu masa yang akan mengubah hampir seluruh hidupnya.


Ibn Hazm tumbuh ketika kekuasaan Córdoba mulai diguncang perebutan kepentingan. Setelah masa kejayaan berlalu, persaingan di dalam pemerintahan semakin keras. Khalifah dapat naik dan jatuh dalam waktu singkat. Kelompok-kelompok politik saling berhadapan. Orang yang hari ini berada dekat dengan pusat kekuasaan dapat kehilangan semuanya beberapa bulan kemudian. Istana yang dahulu menjadi lambang kemapanan perlahan berubah menjadi tempat yang penuh ketidakpastian.


Sebelum Ibn Hazm benar-benar dewasa, kesedihan lebih dahulu masuk ke rumahnya. Kakaknya, Abu Bakr Umar, meninggal ketika wabah melanda. Tidak lama kemudian ayahnya juga meninggal. Dalam usia yang masih muda, ia kehilangan dua orang penting dalam keluarganya ketika keadaan Córdoba sendiri sedang jauh dari tenang.


Kehilangan itu belum selesai ketika pergolakan politik semakin mendekat ke rumahnya. Kekuasaan di Córdoba berubah. Pertempuran dan kerusuhan yang selama ini mungkin terdengar sebagai persoalan para penguasa akhirnya masuk ke kehidupan keluarganya sendiri. Rumah mereka dijarah ketika kelompok yang berkuasa mengambil alih kota. 


Pada tahun 1013, Ibn Hazm akhirnya meninggalkan Córdoba dan bergerak menuju Almería. Seorang pemuda yang sebelumnya tumbuh dalam lingkungan keluarga pejabat kini harus mengenal kehidupan sebagai orang yang berpindah karena keadaan.


Barangkali di situlah salah satu bab penting dalam hidup Ibn Hazm dimulai. Ia tidak hanya melihat keruntuhan sebuah pemerintahan dari buku sejarah. Ia menyaksikannya sendiri. Ia pernah mengetahui bagaimana rasanya hidup dekat dengan kekuasaan, lalu mengetahui pula betapa cepat kekuasaan itu tidak berarti ketika keadaan berubah. 


Ia pernah mempunyai rumah di Córdoba, lalu harus meninggalkannya. Ia pernah tumbuh di lingkungan yang memberi rasa aman, kemudian hidup dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.



Meski kekuasaan Bani Umayyah semakin melemah, Ibn Hazm tetap mempunyai keterikatan kuat kepada dinasti tersebut. Baginya, persoalan politik bukan sekadar mencari penguasa mana yang sedang menang. Kesetiaannya kepada keluarga Umayyah akan terus menyeretnya ke berbagai peristiwa yang membuat hidupnya jauh dari tenang.


Di Almería ia tidak dapat sepenuhnya menjauh dari politik. Kecurigaan bahwa dirinya mendukung upaya mengembalikan kekuasaan Umayyah membuatnya ditangkap sekitar tahun 1016. Setelah beberapa bulan ditahan, ia diasingkan. Baru beberapa tahun meninggalkan rumahnya, ia sudah merasakan kehilangan keluarga, kehilangan kedudukan, pengungsian, penangkapan, dan pengasingan.


Namun Ibn Hazm belum menyerah pada urusan politik. Ketika muncul Abdurrahman al-Murtadha, seorang keturunan Umayyah yang berusaha merebut kembali kekhalifahan, Ibn Hazm bergabung mendukungnya. Ia bahkan memperoleh kedudukan sebagai wazir. Untuk sesaat, mungkin ada harapan bahwa kekuasaan lama dapat dipulihkan. 


Tetapi Andalus ketika itu bukan tempat yang mudah untuk menghidupkan kembali sesuatu yang telah retak.


Usaha tersebut berakhir dengan kekalahan. Abdurrahman al-Murtadha terbunuh. Ibn Hazm kembali merasakan tekanan dan penjara. Jalan yang sempat membawanya menjadi seorang pejabat kembali menjatuhkannya ke dalam ketidakpastian.


Ia akhirnya kembali ke Córdoba. Tetapi kota itu tidak lagi menjadi Córdoba masa kecilnya. Kekhalifahan yang dahulu tampak megah sedang berada dalam sisa-sisa pertarungan. Pergantian penguasa terjadi begitu cepat sehingga seseorang hampir tidak mempunyai cukup waktu untuk merasa tenang.


Ketika Abdurrahman V al-Mustazhhir naik sebagai khalifah, Ibn Hazm kembali berada di lingkungan pemerintahan dan dipercaya menjadi wazir. Kedudukan itu pun tidak berlangsung lama. Pemerintahan Abdurrahman V hanya berumur sangat singkat. Sang khalifah dibunuh, penguasa berganti, dan Ibn Hazm sekali lagi ditangkap. Kehidupan politiknya seperti sebuah lingkaran yang terus berulang: harapan, kedudukan, kekalahan, penjara, lalu perjalanan menuju tempat lain.


Pada suatu titik, hidup seolah memaksanya memahami bahwa istana bukan tempat yang akan memberikan ketenangan kepadanya.



Dari kota-kota Andalus yang ia singgahi setelah berbagai pergolakan itulah muncul sisi Ibn Hazm yang berbeda. Bukan Ibn Hazm sang wazir, bukan pendukung sebuah dinasti, bukan pula tahanan politik. Tetapi Ibn Hazm sang penulis.


Di Xàtiva, jauh dari kemegahan masa kecilnya di Córdoba, ia menulis salah satu karya yang kelak menjadi bagian paling terkenal dari namanya: Tawq al-Hamamah, yang sering diterjemahkan sebagai Kalung Merpati. Karya itu berbicara tentang cinta, perasaan manusia, perpisahan, kesetiaan, kecemburuan, kerinduan, dan berbagai keadaan hati. 


Menariknya, buku tersebut juga menyimpan banyak jejak kehidupan Andalus yang pernah dilihat Ibn Hazm sendiri. Karena itulah ia bukan sekadar kitab mengenai cinta, tetapi juga seperti sebuah jendela kecil menuju masyarakat tempat Ibn Hazm pernah hidup. Sumber biografi utama menempatkan penulisannya di Xàtiva sekitar tahun 1026.


Ada sesuatu yang menarik dari seorang Ibn Hazm. Hidupnya dipenuhi benturan politik, tetapi tangannya mampu menulis tentang sesuatu yang begitu halus seperti gerak hati manusia. Ia dikenal keras dalam perdebatan ilmu, tetapi dalam Tawq al-Hamamah pembaca menemukan seseorang yang sangat memperhatikan perubahan kecil dalam sikap manusia: tatapan, pertemuan, kerinduan, janji, kesetiaan, perpisahan dan luka setelah kehilangan.


Barangkali tidak aneh. Ia sendiri telah berkali-kali kehilangan.


Ia kehilangan orang-orang dalam keluarganya. Ia kehilangan rumah tempat ia tumbuh. Ia melihat kekuasaan yang ia dukung runtuh. Ia kehilangan sahabat dan orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Ia berkali-kali meninggalkan kota, masuk penjara, kemudian kembali berjalan menuju tempat lain. 


Seorang penulis tidak selalu menulis dari kehidupan yang tenang. Terkadang ketajaman seseorang membaca perasaan justru lahir karena hidupnya telah memperlihatkan kepadanya begitu banyak perpisahan.


Setelah melewati berbagai kegagalan politik, perhatian Ibn Hazm semakin banyak beralih kepada ilmu. Ia mempelajari fikih, hadis, sejarah agama, bahasa, sastra, logika dan berbagai bidang lainnya. Dalam masalah fikih, namanya kemudian sangat erat dengan mazhab Zahiri, pendekatan yang menaruh tekanan kuat pada makna lahiriah teks Al-Qur'an dan Sunnah serta menolak penggunaan qiyas dalam bentuk yang diterima oleh banyak mazhab fikih lainnya. 


Posisi intelektual itu membuat Ibn Hazm menjadi sosok yang sulit ditempatkan di tengah arus utama ulama Andalus pada zamannya.


Jika sebelumnya ia berhadapan dengan lawan politik, kini ia mempunyai lawan dalam dunia keilmuan.


Ibn Hazm bukan orang yang dikenal lembut ketika berdebat. Tulisan-tulisannya tajam. Ketika menganggap sebuah pendapat keliru, ia dapat menyerangnya dengan bahasa yang keras. Kecerdasannya membuatnya mampu bergerak dari satu bidang pembahasan menuju bidang lain dengan sangat cepat, tetapi ketajaman itulah yang juga membuat banyak orang tidak menyukainya.


Perjalanan keilmuannya membawa Ibn Hazm berkeliling lagi. Ia pernah berada di Mallorca dan mendapatkan ruang yang lebih luas untuk menyampaikan pandangannya. Di sana pula ia terlibat dalam perdebatan dengan ulama lain, termasuk Abu al-Walid al-Baji, salah seorang tokoh penting mazhab Maliki. Perselisihan ilmu semakin mempertegas bahwa Ibn Hazm bukan sosok yang mudah berjalan mengikuti pendapat mayoritas hanya demi diterima.


Sedikit demi sedikit kehidupan politik yang pernah begitu dekat dengannya berubah menjadi kehidupan seorang penulis yang terus menghasilkan karya. Ia menulis tentang fikih. Ia menulis mengenai mazhab dan agama. Ia menulis mengenai akhlak. Ia menulis tentang logika. Ia menulis mengenai sejarah pemikiran. Karya-karyanya menunjukkan bahwa seorang lelaki yang pernah kehilangan pusat kehidupannya di Córdoba ternyata menemukan pusat kehidupan lain di dalam ilmu.


Tetapi bahkan di sana, ketenangan tidak benar-benar datang.


Andalus pada masa Ibn Hazm telah berubah menjadi wilayah kerajaan-kerajaan kecil yang dikenal sebagai masa Muluk ath-Thawaif. Córdoba tidak lagi memegang seluruh kekuasaan seperti dahulu. Sevilla, Granada, Zaragoza dan kota-kota lainnya memiliki penguasanya sendiri. Persaingan politik berjalan berdampingan dengan persaingan intelektual dan mazhab.


Di Sevilla, pertentangan terhadap Ibn Hazm mencapai satu peristiwa yang kemudian sangat terkenal. Sumber-sumber sejarah menyebut bahwa penguasa Sevilla, al-Mu'tadid ibn Abbad, memerintahkan pembakaran sejumlah kitab Ibn Hazm. Para peneliti modern juga mencatat bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan ketegangan politik dan pemikiran yang mengelilingi dirinya.


Bagi seorang penulis, pembakaran buku mungkin terasa seperti kehilangan yang berbeda dari kehilangan rumah. Rumah adalah tempat tubuh tinggal, sementara buku adalah tempat bertahun-tahun pikiran seseorang disimpan. Lembaran yang dibakar bukan sekadar kertas. Di sana ada waktu, bacaan, catatan, perdebatan dan bagian dari umur yang telah diberikan seseorang kepada ilmu.


Namun Ibn Hazm pernah kehilangan rumah sebelumnya.

Ia pernah kehilangan kedudukan.

Ia pernah kehilangan kebebasannya ketika dipenjara.

Dan sekarang ia menyaksikan karya-karyanya dibakar.


Dari peristiwa itulah dinisbatkan kepadanya beberapa bait yang kemudian terus dikenang. Maknanya sederhana sekaligus kuat: kalian dapat membakar lembaran kertas, tetapi kalian tidak akan mampu membakar ilmu yang telah berada di dalam dada. Pengetahuan itu akan tetap berjalan bersamanya ke mana pun ia pergi.


Mungkin jawaban seperti itu hanya dapat keluar dari seseorang yang telah terlalu sering melihat hal-hal yang dianggap tetap ternyata dapat dirampas.


Ketika muda, ia mempunyai rumah dan rumah itu hilang.

Ia mempunyai kedudukan dan kedudukan itu hilang.

Ia mempunyai penguasa yang ia dukung dan penguasa itu terbunuh.

Ia mempunyai kebebasan dan ia pernah dipenjara.

Ia mempunyai kitab dan sebagian kitab itu dibakar.

Maka yang tersisa adalah sesuatu yang tidak mudah diambil orang lain: apa yang telah benar-benar menjadi bagian dari dirinya.


Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, Ibn Hazm semakin jauh dari perebutan kekuasaan yang pernah memenuhi masa mudanya. Lelaki yang dahulu keluar masuk istana itu akhirnya lebih banyak hidup dalam dunia ilmu dan penulisan. Ia kembali ke wilayah keluarganya di sekitar Montija, Huelva, jauh dari pusat politik Córdoba yang pernah menjadi awal seluruh ceritanya. Ia wafat pada tahun 456 Hijriah atau 1064 Masehi.


Ketika Ibn Hazm meninggal, Córdoba yang pernah dikenalnya pada masa kanak-kanak juga telah lama berubah. Kekhalifahan Umayyah di Andalus sudah menjadi bagian dari masa lalu. Istana yang pernah terasa begitu dekat dengannya tidak mampu mempertahankan sebuah negara. Para khalifah yang dahulu diperebutkan telah menjadi nama-nama dalam sejarah. 


Banyak orang yang pernah mempunyai kekuasaan lebih besar daripada Ibn Hazm perlahan tenggelam dan hanya dikenal oleh mereka yang membuka kitab sejarah secara khusus.


Anehnya, lelaki yang berkali-kali kalah dalam politik justru bertahan melalui sesuatu yang dahulu dianggap dapat dimusnahkan dengan api.


Tulisan-tulisannya.

Berabad-abad setelah buku-bukunya pernah dibakar, manusia masih membaca Ibn Hazm. Tawq al-Hamamah masih dibicarakan ketika orang meneliti sastra dan kehidupan sosial Andalus. Al-Muhalla masih dikenal dalam pembahasan fikih. Al-Fisal masih menjadi bagian dari sejarah pemikiran Islam. Namanya terus hadir ketika orang berbicara mengenai mazhab Zahiri dan perkembangan intelektual di Andalus.


Barangkali karena itu kisah Ibn Hazm tidak perlu dipaksa menjadi cerita tentang seorang manusia yang selalu menang. Ia bukan demikian.


Ada terlalu banyak kekalahan di dalam hidupnya.


Ia gagal melihat dinasti yang dicintainya kembali berdiri kokoh. Ia mengalami pengasingan. Ia dipenjarakan. Ia berpindah-pindah. Pendapatnya menimbulkan banyak permusuhan. Kitabnya dibakar. Bahkan sebagian besar karya yang dinisbatkan kepadanya tidak seluruhnya sampai kepada masa kita.


Tetapi justru dari alur hidup seperti itulah kisahnya terasa utuh.


Ia lahir ketika Córdoba masih mempunyai kemegahan, tumbuh di sekitar kehidupan istana, lalu menyaksikan dunianya pecah sedikit demi sedikit. Ia berjalan dari Córdoba menuju Almería, dari pengasingan menuju arena politik, dari jabatan wazir menuju penjara, dari kekacauan kekuasaan menuju halaman-halaman buku.


Seakan hidup Ibn Hazm sendiri bergerak bersama nasib Andalus.


Ketika Andalus berada dalam kemegahan, ia adalah seorang anak dari lingkungan elit Córdoba.


Ketika Andalus terpecah, ia menjadi seorang pengembara.


Ketika kekuasaan kehilangan ketenangannya, ia mencari sesuatu yang lebih lama umurnya daripada pemerintahan: ilmu.


Dan ketika orang mencoba membakar ilmu yang telah ia tulis, waktu seolah memberikan jawaban yang tidak sempat diberikan Ibn Hazm sendiri.


Kertas memang dapat menjadi abu.


Tetapi sebuah pikiran yang telah menemukan pembacanya dapat hidup jauh lebih lama daripada istana tempat penulisnya pernah dibesarkan.


Begitulah Ali bin Ahmad bin Hazm, putra Córdoba yang masa mudanya dimulai di dekat kekuasaan dan masa tuanya berakhir jauh darinya. Hidupnya melewati istana, wabah, kematian orang-orang tercinta, perang saudara, pengungsian, penjara, jabatan, kekalahan, perdebatan ilmu, perjalanan dari satu kota Andalus ke kota lainnya, hingga api yang membakar kitab-kitabnya.


Ia mungkin pernah melihat hampir semua hal yang dahulu dimilikinya berubah.


Tetapi namanya justru tinggal melalui sesuatu yang tidak dapat dipertahankan oleh pedang ataupun istana.


Melalui kata-kata.

Catatan sumber: Artikel ini ditulis ulang dari nol sebagai narasi sejarah Catatan Santri. Fakta biografi utamanya merujuk pada sumber ensiklopedis dan kajian mengenai Ibn Hazm, termasuk riwayat kehidupan politiknya, penulisan Tawq al-Hamamah, perjalanan keilmuannya, serta peristiwa pembakaran kitab-kitabnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Setuju) #days=(30)

Catatan Santri menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman pembaca dan mendukung layanan seperti Google AdSense. Pelajari selengkapnya
Ok, Go it!