Ada kalimat yang mungkin terdengar begitu keras, tetapi justru karena keras itulah ia perlu direnungkan: percuma nyantri kalau setelah itu hidupnya malah kehilangan arah.
Masalahnya, kenyataan di lapangan memang tidak selalu seindah bayangan orang. Tidak semua yang pernah nyantri kemudian tumbuh menjadi pribadi yang matang. Tidak semua yang lama di pondok akhirnya selesai dengan baik.
Ada yang awalnya semangat sekali, tetapi makin ke sini justru makin futur. Ngajinya kendor, adabnya menurun, semangat belajarnya hilang, ibadahnya mulai asal-asalan, lalu hidupnya pelan-pelan seperti tidak punya tujuan yang jelas. Secara fisik masih menjadi santri, tetapi secara batin sudah tidak lagi benar-benar hidup sebagai pencari ilmu.
Bahkan yang lebih menyedihkan, belum selesai mondok sudah ingin keluar. Alasannya macam-macam. Bosan. Capek. Tidak betah. Merasa sudah cukup. Merasa temannya di luar sudah bekerja. Merasa tertinggal secara dunia. Melihat orang lain sudah pegang uang, sudah bisa beli ini itu, sudah kelihatan mandiri, lalu muncul keinginan untuk ikut keluar dan kerja. Padahal kenyataannya dirinya masih ditanggung. Makan masih ada yang membiayai. Tempat tinggal masih ada yang menanggung. Bahkan kalau sakit pun masih ada orang tua yang siap memikirkan.
Tetapi anehnya, keinginan keluar itu sering dibungkus dengan kalimat seolah-olah sangat dewasa: “Aku mau cari pengalaman”, “Aku mau mandiri”, atau “Aku pengen kerja.” Padahal kalau jujur pada diri sendiri, kadang yang dicari bukan kemandirian, tetapi keinginan cepat memegang hasil tanpa sabar menyelesaikan proses.
Bekerja tentu bukan sesuatu yang salah. Mondok lalu bekerja juga tidak salah. Bahkan banyak santri yang setelah selesai mondok kemudian bekerja, berbisnis, terjun ke masyarakat, dan menjadi orang yang sangat bermanfaat.
Masalahnya bukan pada kerja. Masalahnya adalah ketika kerja dijadikan alasan untuk lari dari proses yang belum selesai. Ingin hasil, tetapi tidak tahan ditempa. Ingin terlihat dewasa, tetapi belum sanggup bertahan dalam pendidikan. Ingin uang cepat, tetapi belum selesai membentuk diri. Akhirnya yang ditinggalkan bukan hanya pondok, tetapi juga kesempatan besar untuk matang secara ilmu, adab, dan mental.
Yang sering tidak disadari, pesantren itu bukan hanya tempat belajar kitab. Pesantren adalah tempat belajar sabar. Tempat belajar hidup bersama orang lain. Tempat belajar taat pada aturan. Tempat belajar menahan ego. Tempat belajar menerima nasihat. Tempat belajar bahwa hidup tidak selalu sesuai keinginan sendiri.
Kalau seorang santri keluar sebelum proses itu matang, terkadang yang hilang bukan sekadar kesempatan menambah ilmu, tetapi kesempatan ditempa menjadi pribadi yang kuat. Ia mungkin keluar dengan perasaan bebas, tetapi belum tentu keluar dengan pondasi yang kokoh.
Ada juga problem lain yang tidak kalah serius. Sebagian santri mondok bertahun-tahun, tetapi setelah itu hidupnya justru menggantung. Tidak jelas mau ke mana. Tidak jelas ilmunya dipakai untuk apa. Tidak serius melanjutkan belajar, tidak siap terjun ke masyarakat, tidak sungguh-sungguh memperbaiki diri, dan tidak pula fokus membangun masa depan.
Akhirnya hidup seperti jalan di tempat. Kalau ditanya mau jadi apa, bingung. Kalau ditanya sekarang sedang menata apa, juga tidak jelas. Ini yang membuat kalimat “percuma nyantri kalau…” terasa menyentuh. Sebab nyantri seharusnya membuat seseorang lebih punya arah, bukan malah semakin kabur langkahnya.
Sebagian lagi punya masalah pada sikap. Di pondok dulu kelihatan baik, sopan, rajin ikut kegiatan, tetapi setelah keluar adabnya ikut hilang. Ngajinya ditinggal, gurunya dilupakan, teman-teman baiknya ditinggalkan, lingkungan buruk malah didekati.
Ada yang dulu hafal banyak pelajaran, tetapi sekarang lisannya mudah meremehkan orang. Ada yang dulu tinggal di lingkungan penuh nasihat, tetapi sekarang malah mudah meremehkan ibadah. Ada pula yang merasa sudah pernah mondok sehingga gampang menilai orang lain, padahal dirinya sendiri mulai jauh dari nilai-nilai yang dulu diajarkan. Kalau begini, yang tertinggal hanya identitas pernah mondok, tetapi ruh dari mondok itu sendiri sudah makin tipis.
Yang lebih berat lagi adalah ketika santri mulai merasa bahwa mondok itu tidak memberi apa-apa selain keterlambatan secara dunia. Ia melihat teman sebayanya yang tidak mondok sudah bekerja, sudah punya penghasilan, mungkin sudah punya motor sendiri, sudah kelihatan mapan, lalu ia mulai menyesal dengan jalan yang sedang ditempuh.
Dari sinilah godaan itu sering datang. Nyantri dianggap membuatnya tertinggal. Padahal masalahnya bukan pada mondoknya, melainkan pada cara melihat proses. Tidak semua hal harus diukur dengan seberapa cepat menghasilkan uang. Ada hal-hal yang nilainya baru terasa setelah bertahun-tahun, yaitu kedewasaan, keteguhan hati, cara berpikir, adab, dan kemampuan membawa diri dalam hidup.
Memang harus diakui, ada santri yang keluar karena alasan yang berat dan masuk akal. Ada yang terkendala biaya. Ada yang harus membantu keluarga dalam kondisi tertentu. Ada yang benar-benar memiliki tanggung jawab mendesak.
Tidak semua orang yang keluar pondok pantas dihakimi. Karena itu tulisan seperti ini bukan untuk menyapu rata semua keadaan. Tetapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ada cukup banyak yang keluar bukan karena darurat, melainkan karena tidak tahan proses.
Di sinilah letak persoalannya. Sedikit lelah ingin berhenti. Sedikit bosan ingin pindah. Sedikit melihat dunia luar lalu goyah. Padahal justru salah satu pelajaran paling mahal dari nyantri adalah bagaimana bertahan dalam jalan panjang.
Kadang problem santri juga muncul karena dari awal mondok tidak benar-benar tahu tujuannya. Ia berangkat karena disuruh orang tua. Ia tinggal karena tidak punya pilihan. Ia ikut kegiatan karena semua orang melakukannya. Tetapi batinnya sendiri tidak pernah benar-benar bertanya, “Sebenarnya aku sedang menata diriku menjadi siapa?”
Akibatnya, ketika datang rasa jenuh, ia tidak punya alasan yang kuat untuk bertahan. Ketika datang godaan dunia luar, ia mudah goyah. Ketika proses terasa lambat, ia ingin segera selesai. Bukan karena nyantrinya tidak baik, tetapi karena niat dan tujuan di dalam dirinya tidak cukup kuat menopang langkah yang panjang.
Ada juga santri yang sebenarnya betah mondok, tetapi semangat belajarnya kalah oleh kebiasaan menunda. Hari-harinya lewat, tetapi tidak benar-benar diisi dengan kesungguhan. Waktu banyak habis untuk hal-hal kecil yang tidak penting. Ngaji ikut, tapi hatinya kosong. Kitab dibuka, tetapi pikirannya ke mana-mana. Tugas ada, tapi ditunda. Kesempatan belajar ada, tapi tidak dimaksimalkan.
Lama-lama tahun demi tahun berjalan, tetapi hasilnya tidak sebanding dengan waktunya. Ini juga problem yang serius. Karena yang membuat seseorang maju bukan hanya lamanya ia tinggal di pesantren, tetapi seberapa sungguh ia menggunakan waktunya di sana.
Maka ketika dikatakan “percuma nyantri kalau…”, yang dimaksud bukan bahwa mondok harus membuat semua orang langsung sukses besar. Bukan itu. Yang dimaksud adalah betapa sayangnya kalau proses nyantri tidak benar-benar mengubah cara berpikir, cara bersikap, dan arah hidup seseorang.
Percuma nyantri kalau adab tidak bertambah. Percuma nyantri kalau semakin lama justru semakin malas belajar. Percuma nyantri kalau sedikit-sedikit ingin menyerah. Percuma nyantri kalau ilmunya tidak membuat diri lebih rendah hati. Percuma nyantri kalau setelah keluar justru gampang futur dan kehilangan tujuan. Percuma nyantri kalau yang dicari hanya identitas, bukan perubahan.
Padahal yang membuat seorang santri istimewa bukan sorbannya, sarungnya, atau status pernah mondoknya. Yang membuatnya istimewa adalah kalau proses nyantri itu benar-benar membekas.
Ada ketenangan dalam caranya bicara. Ada tanggung jawab dalam caranya menjalani hidup. Ada kesabaran dalam menghadapi keadaan. Ada rasa hormat kepada guru. Ada kesungguhan ketika belajar. Ada kesadaran bahwa hidup harus punya arah. Dan yang lebih penting, ada rasa malu kalau sampai ilmu yang dipelajari tidak membuat dirinya lebih baik.
Menjadi santri bukan berarti harus selamanya tinggal di pondok.
Pada akhirnya setiap orang memang akan keluar dan menghadapi dunia nyata. Tetapi ketika keluar, seharusnya ia membawa bekal, bukan sekadar kenangan. Ia membawa cara pandang yang lebih matang. Ia membawa akhlak. Ia membawa semangat belajar yang tidak berhenti hanya karena sudah tidak tinggal di pesantren. Ia membawa rasa tanggung jawab kepada ilmu yang pernah dipelajari.
Sebab santri sejati bukan hanya yang lama mondoknya, tetapi yang tetap menjaga ruh belajarnya setelah keluar dari pondok.
Kalau hari ini ada santri yang mulai futur, mulai bosan, mulai ingin menyerah, mulai merasa tidak jelas arah hidupnya, mungkin yang pertama kali perlu dilakukan bukan buru-buru menyalahkan pondok, guru, atau keadaan.
Mungkin yang perlu dilakukan adalah duduk sejenak dan bertanya pada diri sendiri: sebenarnya aku mondok ini untuk apa? Apakah hanya untuk memenuhi keinginan orang tua? Apakah hanya supaya punya status pernah nyantri? Apakah hanya sekadar menjalani hari? Atau benar-benar untuk menata diri? Pertanyaan itu penting, karena sering kali masalah datang itu dari tujuan yang salah.
Santri yang futur masih bisa bangkit. Santri yang semangatnya menurun masih bisa memperbaiki niat. Santri yang mulai ingin lari dari proses masih bisa belajar bertahan. Santri yang merasa hidupnya tidak jelas masih bisa mulai menata arah.
Yang berbahaya justru kalau semua itu dibiarkan, lalu bertahun-tahun berlalu tanpa ada keinginan untuk membenahi diri. Karena waktu di pesantren, semahal dan seberat apa pun, akan sangat disayangkan kalau lewat begitu saja tanpa perubahan yang nyata.
Jadi, “percuma nyantri kalau…” sebenarnya bukan kalimat untuk menghina santri. Itu kalimat muhasabah. Kalimat pengingat. Kalimat yang seharusnya membuat kita sadar bahwa
Mondok bukan sekadar tinggal di lingkungan religius, tetapi proses membangun diri.
